









Akhir tahun lalu terasa biasa saja, takdir mengetuk tanpa banyak suara.
Kita bertemu bukan karena rencana, tapi karena semesta punya cara.
Senyum pertama itu sederhana, tapi cukup membuat dunia melambat seketika.
Langkah pelan, tapi degup terasa begitu mendebarkan.
Kita tak buru-buru, tapi rindu makin menggebu.
Kopi jadi alasan, tapi tatapan yang dirindukan.
Obrolan singkat jadi kebiasaan, tapi yang dinanti adalah bertemu.
Waktu dan rindu telah ditempuh, menyusun harap di setiap temu.
Bukan tentang siapa cepat, tapi siapa yang paling niat.
Dan “Ya” kita berharap tak lagi sekadar isyarat, tapi datang membawa niat untuk bersatu.
Kini, kami bukan sekadar dua nama,
Â
Tapi dua jiwa yang berikrar dalam restu-Nya
untuk saling menjaga, saling mendewasa.
Â
Hingga usia tak lagi bernama.