
Cinta Bermula di POLBAN: Kisah Idham dan Wigianti
Pada bulan Agustus 2017, di tengah semaraknya pengenalan kampus di Politeknik Negeri Bandung (POLBAN), takdir mempertemukan dua jiwa yang kelak akan saling mengisi. Dalam keramaian yang penuh gairah mahasiswa baru, Idham menemukan Wigianti—seorang gadis dengan senyum yang merekah seperti mentari pagi, membawa kehangatan di setiap tatapan dan kata-katanya. Namun, bukan hanya senyumnya yang menyentuh hati Idham. Satu momen sederhana namun bermakna terjadi ketika Wigianti memberi sebungkus Beng Beng kepadanya, seolah membagikan sebagian kecil dari dunianya yang manis. Sejak saat itu, benih perasaan mulai tumbuh dalam hati Idham, tanpa ia sadari.
Waktu pun bergulir seperti aliran sungai yang tenang. Mereka kian dekat, berbagi cerita, tawa, dan impian. Layaknya dua bintang yang perlahan mendekat di langit senja, mereka saling memahami, menguatkan, dan tanpa sadar menjadi bagian yang tak terpisahkan. Meski hanya terjalin dalam ikatan persahabatan, ada getaran halus yang tak bisa disangkal, sesuatu yang lebih dari sekadar pertemanan biasa.
Hingga akhirnya, pada tanggal 16 Maret 2019, Idham tak lagi mampu menyimpan perasaannya. Dengan hati yang berdegup kencang, ia memutuskan untuk mengungkapkan segala yang telah lama bersemayam di lubuk hatinya. Tak ada mawar merah atau cokelat mahal dalam genggamannya, hanya sebungkus Beng Beng—camilan sederhana yang dulu diberikan Wigianti dengan penuh ketulusan. Kali ini, giliran Idham yang menyerahkan Beng Beng itu kepadanya, seakan ingin mengembalikan rasa yang pernah ia terima, namun kali ini dengan makna yang jauh lebih dalam.
“Wigi, kamu tahu kenapa aku kasih Beng Beng ini? Karena sejak pertama kali kamu memberikannya padaku, aku tahu, bahwa hidupku akan lebih manis jika bersamamu. Dan seperti slogannya, aku ingin hari-harimu menjadi empat kali lebih bahagia saat kita bersama,” ujar Idham, suaranya bergetar namun penuh keyakinan.
Sejenak, dunia seolah berhenti berputar. Wigianti menatap Idham, membaca kejujuran dalam matanya. Senyumnya mengembang, matanya berbinar seperti bintang di langit malam. Dengan lembut, ia menerima Beng Beng itu, lalu berbisik, “Kalau begitu, mari kita buat kisah ini menjadi lebih manis, lebih hangat, dan lebih abadi.”
Sejak hari itu, dua hati yang dulu hanya berseberangan kini menyatu dalam satu kisah cinta. Mereka melangkah bersama, menuliskan cerita indah mereka dengan kebahagiaan yang terus bertumbuh. Dan hingga kini, setiap kali melihat Beng Beng, mereka tidak hanya mengingat camilan manis itu, tetapi juga awal mula perjalanan cinta mereka yang penuh kehangatan.